Tampilkan postingan dengan label Secuil Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secuil Karya. Tampilkan semua postingan
0

Short Story

Baca Cerita Pendek atau cerpen itu menyenangkan tapi membuat cerpen itu bukanlah perkara mudah. Harus ada inspirasi yang mendukung. Insirasi itu bisa datang mendadak kapan saja dan di mana saja. Tapi kalau tidak ada? Wah wah siap-siap pusing tujuh keliling. Salah satu tugas di sekolah adalah membuat cerpen dan itu menjadi hal sulit bagiku yang tidak tau masalah tulis menulis. Aku mulai mengetik awal dari cerpenku ini jam 12 malam, saat itu inspirasi dalam pikiranku sedang mengalir deras. Aku selesaikan cerpen ini saat matahari mulai menyalami dunia sebelum aku berangkat sekolah. Kalau ada usaha semuanya bisa, ya kan? ini hasil inspirasi pagi butaku..



Sosok itu Dia
Seharusnya pagi  ini bukan pagi yang spesial, sama seperti pagi yang selalu aku lalui setiap hari. Duduk berhadapan di angkot langganan yang cepat tiada tanding ditambah bercengkrama bersamanya membuat jarak 18 km itu terasa dekat. Tak peduli siapa yang naik dan turun silih berganti yang aku tahu aku sedang berbicara dengannya. Kini berangkat sekolah itu jadi hal yang menyenangkan. Mungkin karena ada dia teman musholaku.
“Ngobrol sama kamu tuh seru ya Adnin.”, katanya kepadaku.
“Memang seseru apa Dan?”, jawabku tersenyum.
“Kamu itu dewasa. Aku suka kamu bikin tenang.”, tambahnya.
 Aku hanya tersenyum malu menjawab ucapannya. Tak tau mengapa ucapannya membuat aku senang. Obrolan kamipun melebar kemana-mana sampai dia bercerita tentang persiapannya untuk pindah sekolah ke Bandung. Dia kini tinggal bersama orang tuanya di sana. Tidak tinggal bersama neneknya lagi di sini.
Angkot berhenti tepat di gerbang sekolah.  Bunyi bel tanda jam pertama belajar akan segera dimulai iringi langkah kakiku menuju kelas.  Sama seperti siswa lain yang baru sampai di sekolah, ku langkahkan kaki ini dengan sesegera mungkin. Berharap tidak mengulangi kebiasaan dulu yang memalukan. Aku yakin jika aku menaiki angkot langgananku aku terbebas dari bahaya kesiangan yang memalukan itu.
            Selain Bahasa Inggris, pelajaran PAI adalah pelajaran favoritku. Jam pertama hari ini pun adalah PAI. Pelajaran PAI ini aku sangat ampuh untuk menetralisir pelajaran yang berhubungan dengan banyak angka ya seperti kimia. Kesukaanku terhadap pelajaran ini bertambah ketika aku mengenal Bu Nuri. Aku sering dibuat takjub olehnya jika sedang menceritakan tentang indahnya Islam.
Ibu Nuriyah atau yang sering anak-anak bilang bu Nuri adalah salah satu guru yang dikagumi di sekolah. Cantik, ramah, cerdas adalah gambaran dari sosok mungil beliau. Beliau itu terbuka dan ramah kepada siapapun. Aku paling ingat tentang penjelasan beliau yang  satu ini. Topiknya adalah cinta. Islam memandang cinta seperti iman, karena mencintai adalah bagian dari sifat orang yang beriman dan mencintai seseorang karena ketaqwaan kita pada Allah adalah sebenar-benarnya cinta, disinilah letaknya kebahagiaan dalam cinta. Itu kutipan ibu Nuri yang selalu terpatri di memoriku ini.
Satu pesan singkat aku terima dari teman musholaku itu. Isinya seperti biasa sepulang sekolah dia menungguku dan angkot langganan di depan sekolahnya. Itulah kebiasaan yang mulai muncul ketika kita masuk SMA. Berangkat dan pulang sekolah bareng dengan mobil langganan. Walaupun berbeda sekolah tapi bukan jadi halangan berarti.
Ada yang berkata tak akan ada habisnya jika bicara tentang cinta. Semuanya penuh dengan tanda tanya. Mereka berkata tidak tahu arti cinta itu. Mereka tidak tahu bahwa cinta bisa datang kepada siapa saja, kapan saja atau di mana saja. Mereka juga berkata tidak tahu bagaimana dan mengapa cinta itu bisa datang. Tapi aku tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Dan semuanya bisa terjawab oleh hati yang jujur ini.
***
Berkumandangnya adzan Magrib, menyebar ke penjuru langit Sore. Insan muslim diseru tuk bersujud kepada Rabb semesta alam. Hujan pun tak menghalangi semangat anak-anak mushola untuk pergi meramaikan rumah Allah ini. Walaupun tak ada yang lain hanya aku, dia teman musholaku dan beberapa anak kecil saja yang ada di mushola.
 “Adnin, ini betul aku yang jadi imam?”, liriknya padaku yang ada di barisan ma’mum.
“Ya memang siapa lagi? Harus aku? Kamu kan pria satu-satunya”, jawabku.
“Kamu ganti aku sajalah aku tidak bisa”, ucapnya sambil membetulkan pecinya.
“Loh? Tenang ini kan awal buat kamu. Kalau sudah punya keluarga harus bisa jadi imam yang baik kan? Ayolah nanti waktu magribnya habis gara-gara kelamaan.”
Aku tahu ini menjadi pertama kalinya dia menjadi imam. Pak Haji yang biasanya menjadi imam berhalangan hadir karena sedang melaksanakan umroh.Terlihat jelas di raut wajahnya bahwa dia gugup. Badannya sedikit gemetar ketika akan memulai sholat. Awalnya memang agak sedikit ragu dengan menghela nafas panjang dia ucapkan takbir. Dan kukhusukan pikiran kepada Sang Maha Kuasa.
Kebiasaan pergi ke mushola itu telah ditanamkan orang tuaku sejak kecil. Dan kebiasaan ini pun berlangsung sampai sekarang. Berkat kebiasaan  ini aku mengenal sosoknya yang begitu luar biasa di mataku. Aku telah mengenalnya sejak duduk dibangku kelas IV SD.
Denting jam berlalu begitu cepat. Tak terasa 2 tahun sudah aku berangkat dan pulang sekolah sendiri. Tak ada obrolan seru lagi di angkot langganan. Tak ada lagi yang menungguku di depan SMK. Tak terlihat lagi sosok imam yang nervous di mushola.  Tak lagi aku melihat sosoknya. Semuanya hampa tanpa sosok itu. Semuanya hilang dari pandangan mata.
Aku berusaha mencari informasi tentangnya. Aku tak mau terus larut dalam rasa rindu. Aku tak bisa menghubungi ponselnya. Kulihat akun jejaring sosialnya. Entah apa maksud tulisan-tulisan yang dia share di sana. “You make me down and down” satu tahun lalu tulisan itu muncul. God, it’s not fair. Why? You give this bitter tes? Why did you take all my parents? tulisnya.
Rasa khawatirku tak terbendung lagi. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang. Apa yang telah terjadi padanya? Apakah dia baik-baik saja? Apa maksud dari tulisan-tulisan itu? Pikiranku penuh dengan beribu tanya tentangnya.
***
            Bandung…
Tengah hari ini, kota Bandung seakan membara. Matahari berpijar di tengah langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah seakan menguapkan bau neraka. Hembusan angin sejuk tak terasa lagi. Gedung-gedung tinggi dan keramaian binasakan semua udara sejuk itu. Memang Bandung telah menjadi lautan api.
Aku tak sengaja melihat seseorang di sebrang jalan sana dengan pakaian compang-camping dan lusuh. Matanya berpendar kemana-mana mencari botol-botol plastik di antara tumpukan-tumpukan sampah. Aku menajamkan penglihatanku, sepertinya orang itu tak asing bagiku.
Dani! Astagfirullah! Itukah kamu? Gembira hati telah melihatnya lagi. Terbesit sedikit keraguan tapi tak kuhiraukan keraguan itu. Aku memanggil namanya, namun bisingnya kendaraan halangi suara panggilanku terhadapnya. Tak kulihat respon sedikit pun darinya. Dia masih tetap fokus deagan botol-botol plastik yang dicarinya,
 “Dani..! Dani...! Dani…!” Panggilanku semakin keras di tengah hiruk-pikuk kota Bandung yang ramai. Dia menghentikan aktivitasnya dan hanya menatapku dari kejauhan dengan aneh. Dia membawa semua keranjang berisi botol plastik yang dipikulnya dan segera bergegas pergi. Pergi dengan jawaban tentang hidupnya. Ingin raga ini mengejarnya. Tapi rangkaian mobil yang berjajar padat hentikan langkah pertamaku untuk menyebrang jalan sana. Ya Allah haruskah aku kehilangan dia lagi? Dani mengapa kau harus pergi?
Lalu apa kabar hatiku ini? Mungkin bagai serpih-serpih pasir di pantai tersapu gelombang pasang  dan  harus hilang terpecah karang. Ada tersimpan rasa perih mendera mengingatnya disaat itu. Kini dia tampak lelah menderita. Ada apa dengan teman musholaku ini?
 Iruzuka~~
0

Ketika Sebatang Tebu pun Ikut Bertasbih

Sebelum tiba di sekolah aku tertuju pada seorang lelaki yang sedang berjalan sendirian. Lelaki itu tampan, bertubuh tinggi tegap, mengenakan baju koko dan peci di kepalanya menuju ke  mesjid Al-Huriyyah di dekat rumah. Yaa Allah, How handsome he is! ucapku dalam hati. Mengingatkanku pada Lin Dan, atlet bulutangkis favoritku. Aku terdiam melihatnya. “astagfirullah, Adnin!”. Ku langkahkan kaki ini dengan segera menuju sekolah. Bel sekolah pun sudah terdengar dari kejauhan. Ketenangan muncul ketika aku telah melewati gerbang sekolah yang hampir ditutup pa satpam.
            Ku kira aku akan menjadi siswa satu-satunya yang belum selesai mengerjakan tugas. Tetapi Allah sungguh maha mendengar do’a hambanya ternyata Hari ini kegiatan belajar terganggu alasannya karena ada rapat untuk ujian nasional kelas XII. Ya Allah bersyukur sekali untuk hari ini. Pulang lebih awal dan hanya mengerjakan tugas-tugas dari guru yang sedang mengikuti rapat, tak ada kata lain yang bisa terucap kecuali Alhamdulillah..
            Karena pulang lebih awal, setelah sholat dzuhur di sekolah aku putuskan untuk pergi ke tempat favoritku saung yang berada di tengah kebun tebu. Saung tempat mencurahkan segala isi hatiku, dalam senang, sedih ataupun hal lain. Langkahku terhenti ketika aku melihat seorang lelaki yang tak asing bagiku sedang bersandar di saung. Dia memegang dadanya seperti orang yang sedang kesakitan, aku berfikir pasti ada yang tak beres dengannya. Aku berlari ke saung itu dan terkaget. Masya Allah dia sesak nafas. Aku bingung, aku panik dan tak tau harus berbuat apa. Aku tak bisa membawanya pergi dari saung, aku tak tau harus meminta tolong pada siapa di tengah kebun tebu yang sepi ini. Aku hanya bisa memberinya seteguk air dan berdo’a pada Allah agar tak terjadi apa-apa padanya. Tak lama sesak nafasnya berhenti dan ia pun mulai pulih kembali. “sudah baikan?” tanyaku padanya “ya” jawabnya dingin padaku. Seketika diapun pergi entah ke mana. Aku baru menyadari ternyata dia lelaki berbaju koko tadi yang aku lihat ketika berangkat sekolah. Ya Allah aku tak tau mengapa, tapi bolehkah aku mengaguminya? Tanyaku dalam hati.
            “Assalamu alaikum Abi, Umi Adnin pulang” “wa’alaikum salam, makan dulu nak umi sudah siapkan cumi goreng buat kamu” “iyah Umi”. “Jangan lupa sehabis magrib berangkat ngaji ke mushola Nurul Halim. Ustadzah Ninih tanyain kamu terus” Abi mengingatkanku karena sudah satu mingggu aku tak mengaji. “Siap Abi, sekarang pasti berangkat!”. Abi dan umiku memang sangat memperhatikannku , mungkin karena aku anak semata wayang mereka. Walaupun selalu memperhatikannku tapi mereka tidak memajakannku. Berbeda dengan sekarang sebelumnya mereka terlalu memanjakannku. Dengan kemanjaan, aku sulit untuk menjadi anak yang mandiri. Segala sesuatu bergantung pada orang lain. Aku kan tak mau jadi benalu di semak belukar. Maka dari itu aku meminta mereka agar mengubah didikannya.  Aku tau mereka hanya ingin mendidikku supaya aku bisa menjadi anak yang sholehah. I very love them.
            Satu minggu ternyata waktu yang sangat lama ya, ketika ada di mushola aku langung berbincang-bincang dengan ustadzah. Rasanya aku ingin mendengarkan cerita-ceritanya yang selalu aku jadikan motivasi. yeah I miss this situation. Ustadzah menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang sebaya denganku bergabung untuk belajar mengaji di sini. Namanya Rofii kelas X SMAN 1 Jatiwangi. Ustadzah bilang akhlaq Rofi itu perlu diperbaiki. Ustadzah pun menunjukan teman baruku itu. The handsome boy again? Aku tak percaya bisa bertemu dengannya lagi, lagi dan lagi. Ustadzah menceritakan hal lain tentangnya, akibat dia sering merokok, diapun mempunyai asma yang berat. Tekadang jika asmanya kambuh ustadzah sangat hawatir dengan keadaanya. Ku fikir berarti sewaktu di saung asmanya itu kambuh.
Sejak saat itulah aku selalu memperhatikannya. Detik demi detik di Mushola menjadi berharga bagiku. Kini mushola menjadi tempat favorit kedua setelah kebun tebu. Aku yakin Rofi bisa mengubah hidupnya.
Ketika aku akan pergi ke pasar, terlihat dari kejauhan Malik teman ngaji di Mushola Nurul Halim berlari menghampiriku dengan wajah penuh emosi. “kau tak tau apa yang diperbuat Rofi?” “memang ada apa dengan Rofi?” “Dia sungguh keterlaluan, memalukan nama Mushola Nurul Halim saja. Dia ketauan mencuri.” “ kamu jangan asal bicara. Aku tak percaya Rofi melakukan hal seperti itu” “kalau kau tak percaya ikut aku ke pasar!” aku berlari bersama Malik. Perasaanku tak menentu. Kepercayaanku terhadap Rofi sedikit memudar tapi hati kecil ini yakin dia tak akan melakukan hal seperti itu. Tapi aku lebih khawatir dengan keadaannya.
            Sesampai di pasar aku dan malik tidak menemukan Rofi. Terdengar percakapan kecil dari ibu-ibu yang sedang mengobrol di pasar membicarakan tentang kejadian tadi. Tanpa sengaja ku dengar Rofi dipukuli habis-habisan, dia ingin menjelaskan apa yang terjadi tapi entah ada apa dengan manusia yang memukuli Rofi yang tak memberi kesempatan sedikitpun. Mereka sungguh keterlaluan. “Anak tadi merintih kesakitan. Dia tak bisa berontak. Semua orang berusaha menghentikannya bu, tapi preman-preman pasar itu sungguh ketelaluan.” Seorang ibu memberi penjelasan kepada temannya. Mereka semua baru berhenti memukulinya ketika asma Rofi kambuh. Ternyata Rofi telah dibawa pulang oleh ayahnya. Aku tak kuat mendengar cerita ibu tadi. Aku berlari meninggalkan Malik dengan tetesan air mata. Tak jauh aku menoleh ke arah Malik dia tersenyum sinis dan aku mengabaikannya. Tak ada yang aku fikirkan kecuali keadaan Rofi sekarang. God, may Rofi be under Your Protection.
            Aku tak berani melihat Rofi sekarang. Aku tak kuat melihatnya kesakitan. Aku tak ingin menangis di hadapannya, Ya Allah berilah dia kesembuhan. Jagalah hambamu itu. Berikanlah ia kekuatan untuk menghadapi cobaan ini. Aku yakin Kau maha Mengetahui. Rofi semoga kau cepat sembuh.
            Ditemani matahari yang beranjak pergi ke barat dan angin sepoi-sepoi aku duduk di saung pohon tebu. Semenjak kejadian di pasa itu aku tak pernah melihat Rofi lagi. Aku ingin melihatnya mengaji lagi. Aku ingin bertemu dengannya tanpa melihatnya kesakitan. “Adnin!” suara yang tak asing bagiku memanggilku dari belakang. Aku membalikan badanku ke belakang. “Rofi” aku terkejut sekaligus senang. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di sini. Aku tak bisa berkata-apa. Aku hanya bisa menangis melihatnya. Aku malu tak pernah menjenguknya sama sekali. “Rofi, maaf ak..” “tak apa Adnin” Rofi memotong perkataanku. “kemarin hanya cobaan dari Allah saja. Malik memfitnahku mencuri mungkin karena dia dendam padaku karena aku pernah memukulinya dulu” “tapi kamu tak apa-apa?” tanyaku. “ kan kamu lihat sendiri, aku kan kuat tentu saja aku baik-baik saja” aku hanya tersenyum mendengarnya. “ya Allah terima kasih kau telah menciptakan seseorang yang sholehah, seseorang yang begitu peduli terhadapku, seseorang yang bisa membuatku tersadar dari kegelapan,ya Allah kumohon izinkan aku.” Ucapnya kepadaku “Adnin bolehkah aku mengagumimu?” Ya Allah apa yang dikatakan Rofi ini? Aku, aku, aku sangat bahagia ya Tuhanku. Aku meninggalkannya dan tersenyum padanya.
Iruzuka~~
0

Kumohon, Kembalikan Rasa itu! I_rez

Hati tak bisa berbohong
Jiwa tak bisa berdusta
Mulut tak bisa berkata
Haruskah mata yang berbicara?
       Saat fikiran tak bisa ku tebak
       Saat rasa tak bisa kupahami
       Saat tanya tak bisa ku jawab
Aku rindu rasa itu
Rasa yang hilang entah ke mana
Membuat jantung berdebar kencang
Membuat darah mengalir deras
Membuat hati berbunga-bunga
Dan membuat aku gila...
       Aku ingin rasa itu kembali
       Hiasi hati hambar ini
       Tuk bisa rasa indahnya hidup
       Hiasi ruang hampa ini
       Tuk bisa hiasi warna-warni arti
F****** in Love
0

Jatuh Bangun


Hari ini hari yang sangat sibuk. Ke sana ke mari, satu tempat ke tempat lain dijajah untuk mencari barang-barang persyaratan. Mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa Outdoor Living besok. Outdoor living yang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai wahana siswa untuk belajar mandiri. Kali ini Outdoor living dilaksanakan pada tanggal 17-19 November 2011 di bumi perkemahan Parakan kondang, Sumedang. Aku berharap outdoor living kali ini akan menjadi outdoor living yang tak terlupakan. Walaupun ribetnya minta ampun tapi aku berusaha untuk mengikuti apa yang diharuskan oleh A Ksatria dan Anggana raras (Panggilan untuk panitia laki-laki dan perempuan).
               Keesokan harinya, aku berangkat dari rumah pukul 05.15 WIB agar tak terlambat datang ke sekolah. Karena panitia menetapkan chek in pukul 06.00 pagi. Barang-barang yang aku bawa sangatlah banyak. Aku membawa tas ransel yang benar-benar sangat berat., tangan kananku penuh dengan keresek berisi persyaratan makanan dan minuman, sedangkan tangan yang sebelah kiri penuh dengan peralatan kelompok yang harus dibawa. Berjalanpun hingga terasa sulit. Walaupun alat transformasinya hanya menggunakan truk tapi tak berarti perjalanannya tidak mengasyikan. Justru kali ini terasa mengasyikan. Sepanjang jalan aku dan teman-teman takjub melihat pemandangan alam yang begitu indah. Bukit-bukit yang berjajar rapi, pemandangan alam yang sungguh masih sangat asli, hamparan lagit yang benar-benar membuat mata ini tak berkedip.
               Kegiatan-kegiatan outdoor livingsangat seru tetapi kegiatan yang paling diingat dalam outdoor living adalah ketika stressing malam. Semua siswa dibangunkan dari tidurnya. Jika aku boleh protes aku  ingin katakan bahwa aku dan seluruh siswa hanya tidur beberapa jam kamipun lelah telah mengikuti kegiatan kemarin yang sangat melelahkan. Tapi apalah daya baru saja kami memejamkan mata, kegaduhan, suara bising, teriakan, bentakan panitia outdoor living membangunkan kami. Semua siswa dibangunkan untuk berkumpul di tengah lapangan. Kami semua dibentak-bentak karenaberbagai kesalahan. Para panitia menyuruh kami untuk kembali ke tenda utuk berganti pakaian seperti pakaian sewaktu check in dalam hitungan 20 detik. Aku berfikir itukan waktu yang sangat singkat dan tak mungkin, berlari ke tenda yang letaknya jauh saja butuh waktu yang banyak, sungguh menyiksa. Ketiaka panitia berkata mulai seluruh siswa berlarian tak karuan, aku berlari secepat mungkin agar bisa tepat waktu. Tiba-tiba orang yang ada di depanku terjatuh, aku pun tak bisa memberhentikan kakiku yang sedang berlari kencang. Aku kehilangan keseimbangan dan akupun akhirnya harus terjatuh.. sebagian orang melihatku, bahkan ada yang sampai menertawakanku. Malu rasannya aku. Aku tak mau berlama-lama berdiam, lututku terasa sakit tetapi aku berusaha berlari kembali menuju tenda. Sesampainya di tenda aku merasa ada hal yang aneh semua teman-teman yang ada di tenda menghentikan aktivitasnya. Hanya aku yang ribet urus ini itu tapi aku hiraukan mereka. Ketika akan ku buka tasku, ko tas ku berubah warna ya? Bukannya tasku berwarna hijau? Astagfirullah kulirik teman di sampingku aku baru sadar ternyata aku salah masuk tenda. Pantas saja aku merasa ada hal yang aneh semua orang memperhatikanku dan berusaha menahan tawa. Aku meminta maaf kepada mereka dan serentak aku langsung berpindah ke tendaku yang ternyata berada di samping tenda mereka. Aku tahan kedua rasa ini. Rasa malu dan rasa sakit karena luka dilututku. Aku kembali bekumpul ke lapangan. Aku terus saja memikirkan luka ini karena sakit. Setelah acara stressing ini hampir selesai ku putuskan untuk pergi ke tenda PMI.
               Acara stressing pun selesai setelah adzan subuh berkumandang. Semua siswa meksanakan sholat subuh. Siang nanti kami pulang dari plerkemahan dengan membawa oleh-oleh pengalaman yang menumpuk.
0

Bapak, Super Heroku


Menatapmu. Aku bahagia
Mendengar suaramu. Terasa indah
Menyentuhmu. Aku bergetar
Semua tentangmu. Aku bangga
Piluku. Harumu
Senyumku. Anugerahmu
Kau ingin menuntunku, tapi aku tak dengar
Kau ingin mengikutiku, tapi aku tak acuh
Kau beri yang terbaik, tapi aku tak sadar
Untaian intan tak bisa menggantimu
Kau ajarkan tersenyum pada dunia
Kau nyalakan api semangat membara
Allah tahu kasih sayang besarmu
Luar biasanya dirimu. Karena kau super heroku, Bapak
Back to Top